Bintang Satu dan Harga Diri yang Babak Belur di Penjaringan
Adnan
Penulis

Rating Bintang Satu yang Berujung Kekerasan
Minggu ini jagat media sosial Indonesia dihebohkan oleh video penganiayaan driver ojol berinisial MA di Penjaringan, Jakarta Utara. Pelakunya adalah seorang penumpang yang merasa haknya untuk memberi rating bintang satu adalah justifikasi yang cukup untuk melukai sesama manusia. Videonya beredar cepat. Kemarahan publik mengalir deras.
MA mengalami luka di wajah dan tubuhnya. Dia cuma driver ojol yang sedang mencari nafkah. Penumpangnya merasa tidak puas dengan layanan, lalu memberi rating terendah. Tapi itu tidak cukup. Dia harus memastikan MA merasakan sakit fisik juga.
Sistem Rating yang Jadi Pedang Bermata Dua
Aplikasi ojol mengandalkan sistem rating untuk menjaga kualitas layanan. Konsepnya sederhana, yaitu jika penumpang puas, kasih bintang lima. Tidak puas, kasih bintang satu. Driver dengan rating rendah terancam sanksi, bahkan penonaktifan akun. Masalahnya, sistem ini tidak pernah benar-benar adil.
Driver ojol hidup di bawah tekanan rating yang kadang datang dari ekspektasi tidak masuk akal. Macet? Salah driver. Hujan deras? Salah driver. Penumpang bangun kesiangan dan terlambat meeting? Tetap saja, salah driver. Mereka tidak punya ruang untuk membela diri. Mereka hanya bisa menerima dan berharap rating buruk itu tidak menumpuk.
Kasus MA memperlihatkan betapa rapuhnya posisi driver dalam ekosistem ini. Rating bukan lagi alat evaluasi. Rating sudah menjadi senjata. Dan ada orang yang merasa berhak menggunakannya dengan sesuka hati, bahkan sampai memicu kekerasan fisik.
Solidaritas Komunitas yang Menggelora
Begitu video penganiayaan itu viral, komunitas ojol bergerak cepat. Mereka berkumpul, menuntut keadilan, dan memastikan suara MA didengar. Ini bukan pertama kalinya mereka turun ke jalan untuk membela anggota mereka. Setiap kali ada driver yang diperlakukan tidak adil, mereka datang. Setiap kali ada insiden yang merendahkan profesi mereka, mereka angkat suara.
Komunitas ini tahu bahwa mereka bekerja dalam sistem yang tidak melindungi mereka. Perusahaan aplikasi jarang berpihak pada driver saat ada konflik dengan penumpang. Polisi kadang lambat menangani kasus yang melibatkan driver ojol. Jadi mereka hanya punya satu sama lain. Solidaritas itu yang membuat mereka bertahan.
Mereka tidak minta berlebihan. Mereka cuma minta dihargai sebagai manusia yang bekerja keras. Mereka minta sistem yang lebih adil. Mereka minta penumpang mengerti bahwa di balik helm dan jaket ojol itu ada kepala keluarga yang mencari nafkah. Tapi permintaan sesederhana itu masih terasa seperti kemewahan.
Viralnya kasus MA jadi momentum bagi komunitas untuk mengingatkan publik bahwa driver ojol bukan robot. Mereka bukan algoritma yang bisa dinilai dengan satu klik tanpa konsekuensi emosional. Mereka manusia dengan perasaan, tanggungan keluarga, dan harga diri yang layak dijaga.
Budaya Konsumen yang Perlu Dikoreksi
Indonesia punya masalah dengan cara kita memperlakukan pekerja jasa. Kita terlalu terbiasa melihat mereka sebagai pelayan yang harus patuh tanpa syarat. Driver ojol, pelayan restoran, petugas kebersihan, semuanya sering diperlakukan seperti kelas bawah. Kita lupa bahwa mereka juga punya martabat.
Kasus MA seharusnya jadi cermin bagi kita semua. Berapa kali kita memberi rating rendah karena alasan sepele? Berapa kali kita tidak peduli dampak rating itu terhadap kehidupan driver? Berapa kali kita memperlakukan mereka dengan sikap merendahkan karena kita merasa punya kuasa sebagai pembayar?
Ini bukan soal membela driver yang memang salah. Kalau ada driver yang ugal-ugalan atau tidak sopan, ya wajar diberi rating rendah. Tapi kebanyakan driver ojol bekerja dengan jujur dan penuh dedikasi. Mereka layak mendapat perlakuan yang manusiawi. Mereka layak tidak dilecehkan atau dianiaya gara-gara rating.
Penumpang yang menganiaya MA sudah ditangkap polisi. Kasusnya bergulir. Tapi hukuman untuk satu orang pelaku tidak akan mengubah budaya yang lebih besar. Yang perlu berubah adalah cara kita semua memandang dan memperlakukan pekerja jasa. Mulai dari hal kecil: ucapkan terima kasih, beri rating yang adil, jangan main hakim sendiri.
Driver ojol mengantarkan kita ke tempat tujuan setiap hari. Mereka menemani perjalanan kita dalam hujan dan panas. Mereka bantu kita saat terburu-buru. Kenapa kita tidak bisa menghargai mereka dengan lebih baik?
